Kamis, 20 Maret 2014

TOKOH POLITIK ISLAM (HASAN AL-BANA)

TOKOH POLITIK ISLAM (HASAN AL-BANA)
Nama lengkanpnya adalah Hasan Ahmad Abdurrahman Al-babba lahir pada tahun 1906 di Mesir. Menurut catatan pada usia 14 tahun ia sudah menghafal seluuruh Al-quran  ini adalah berkat kerja keras beliau dan kedisiplinan dari ayahnya yang juga merupakan seorang ahli dalam bidang hadist. Ia meninggal dengan tragis karena gejolak politik di Mesir pada tahun 1948, ia trbunuh karena ditembak orang misterius. Karya-karyanya yang ia wariskan untuk umat ini adalah diantaranya Mudzakkirat ad du’at wa ad-da’iyyah (catatan dakwah dan da’i) Ar-Rasail (kumpulan surat-surat).
Jika di hitung ia hanya dapat berkaris selama 42 tahun sepanjang umurnya. Loyalitas atau kesetian terhadap ajarannya yaitu Islam ia tempuh sejak kecil hasil dari kedisiplinan dari ayahnya dan dirinya, ia tidak peduli gejolak politik yang ada dan seakan-akan “terasing” bagi pemuda seusianya mempelajari Islam di masa itu bahkan ia buktikan loyalitasnya terhadap pengabdian kepada bebrapa lembaga Islam diantaranya adalah jamiyyah “As suluk wal akhlak” dan “jamaah an-nahyu al-munkar” serta ia memiliki hubungan dengan harakah sufiyah yang tersebar di daerah-daerah pada masa itu.
Usia 16 tahun ia lulus sekolah dan menjadi lulusan terbaik bahkan urutan ke 5 terbaik di Mesir waktu itu sehingga ia masuk perguruan tingggi di Universitas di Kairo yaitu Dar Al Ulum. Di masa-masa ini ia banyak mengikuti organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan salah satunya adala lembaga tingkah laku moral masyarkat. Gerakan politiknya tidak jauh berbeda dengan tokoh-tokoh politik muslim lainnya yang memulainya dari gerakan dakwah yang bergerak kemudian lambat laun menjadi gerakan politik. Gerakan politiknya ia awali dengan mendirikan suatu organisasi yang diberi nama ikhwanul muslimin (IM) beserta 6 kawan lainnya pada tahun 1928, gerakan ini mulai berkembang lebih jauh ketika Al-bana pidah mengajar pada tahun 1930-an. Gerakan ini menuntuk dunia Islam yang bersih dan menolak sekulerisasi dan westernisasi yang berlebihan pada masa itu.
Gerakan ini mengundang beberapa tokoh lainnya diantaranya adalah sayyid qutb dan yusuf qaradhawi. Gerakan-gerakan semacam ini mendapat apresiasi dan perhatian dari pemerintah setempat, gerakan semacam ini dinilai dapat memperbaiki moral umat yang waktu itu sedang kacau dan politik dianggap salah satu jalannya Karena pada waktu itu pemerintah cenderung kebijakan yang dibuat lebih menguntungkan dirinya sendiri dan berpihak pada barat, terusan suez dikuasai oleh asing yang notabene penghubung atara timur dan barat, dominasi internasional yang ingin mendirikan Negara yahudi dan semakin tertidasnya rakyat palestina, sementara dipihak lain Universitas Al-Azhar sebagi unirsitas tertua Islam yang di gadang-gandang sebagai jalan panutan pemikiran pembahuran yang sesuai dengan semangat islam menjadi “melempen dan mandul”.
Hal semacam itu tidak dibiarkan oleh organisasi IM sehingga berupaya untuk menginbgatkan kaum muslimin dna pemerintah melalui media seperti surat kabar, khutbah-khutbah majalah, pamphlet dan liannnya) agar pemerintah dapat mengambil kebijakan yang digariskan sesuai ajaran Islam. Hal ini menyebabkan benturan dengan pemerintah mesir sendiri.

Pemikirannya dan gerakan yang ia lakukan adalah berasal dari semangat Islam tidak membawa hal-hal lain selain Islam baik itu pemikran baru, agama baru dan lian sebagainya. Ia adalah contoh tokoh politi Islma yang bersifat modern yaitu semangat, keterbukaan dan keluesan sehingga ia menjadi istimewa disbanding tokoh-tokoh polutik islam modern lainnya. Salah satu pemikiran politiknya ia tuangkan kedalam suatu risalah yang bernama nizhamul Hukam Al-bana. Dalam risalah ini ia membagi pilar penyangga pemerintah yaitu (1) tanggung jawab pemerintah (2) kesatuan Umat (3) sikap menghargai aspirasi masyarakat. Selain itu dalam risalah ini pula ia menyatakan”Islam yang hanif ini mengharuskan pemerintahannya menjadi salah satu penegak dari beberapa penegak sistem sosial yang hadir untuk umat manusia. Islam tidak tolelir terhadap kekacauan dan tidak membiarkan umat Islam hidup tanpa pemimpin. Rasullah SAW bersabda” jika engkau berada disuatu negri yang tidak ada kepemimpinan didalamnnya maka tinggalkan negri itu.” dan dalam hadist lain beliau bersabda “dan jika engkau bertiga maka agkatlah seorang pemimpin.” Mengakhiri tulisan ini dalam satu risalah ia juga mengutip perkataan usman bin Affan r.a” sesungguhnya Allah mencegah dengan kekuasaan sesuatu yang tidak bisa dicegah dengan Al-quran”. Wallahua’alm bishoab (@krompuls)                 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar