TOKOH POLITIK ISLAM (HASAN AL-BANA)
Nama lengkanpnya adalah Hasan Ahmad
Abdurrahman Al-babba lahir pada tahun 1906 di Mesir. Menurut catatan pada usia
14 tahun ia sudah menghafal seluuruh Al-quran
ini adalah berkat kerja keras beliau dan kedisiplinan dari ayahnya yang
juga merupakan seorang ahli dalam bidang hadist. Ia meninggal dengan tragis
karena gejolak politik di Mesir pada tahun 1948, ia trbunuh karena ditembak
orang misterius. Karya-karyanya yang ia wariskan untuk umat ini adalah
diantaranya Mudzakkirat ad du’at wa ad-da’iyyah (catatan dakwah dan da’i)
Ar-Rasail (kumpulan surat-surat).
Jika di hitung ia hanya dapat berkaris
selama 42 tahun sepanjang umurnya. Loyalitas atau kesetian terhadap ajarannya
yaitu Islam ia tempuh sejak kecil hasil dari kedisiplinan dari ayahnya dan dirinya,
ia tidak peduli gejolak politik yang ada dan seakan-akan “terasing” bagi pemuda
seusianya mempelajari Islam di masa itu bahkan ia buktikan loyalitasnya
terhadap pengabdian kepada bebrapa lembaga Islam diantaranya adalah jamiyyah
“As suluk wal akhlak” dan “jamaah an-nahyu al-munkar” serta ia memiliki
hubungan dengan harakah sufiyah yang tersebar di daerah-daerah pada masa itu.
Usia 16 tahun ia lulus sekolah dan
menjadi lulusan terbaik bahkan urutan ke 5 terbaik di Mesir waktu itu sehingga
ia masuk perguruan tingggi di Universitas di Kairo yaitu Dar Al Ulum. Di
masa-masa ini ia banyak mengikuti organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan
salah satunya adala lembaga tingkah laku moral masyarkat. Gerakan politiknya
tidak jauh berbeda dengan tokoh-tokoh politik muslim lainnya yang memulainya
dari gerakan dakwah yang bergerak kemudian lambat laun menjadi gerakan politik.
Gerakan politiknya ia awali dengan mendirikan suatu organisasi yang diberi nama
ikhwanul muslimin (IM) beserta 6 kawan lainnya pada tahun 1928, gerakan ini
mulai berkembang lebih jauh ketika Al-bana pidah mengajar pada tahun 1930-an.
Gerakan ini menuntuk dunia Islam yang bersih dan menolak sekulerisasi dan
westernisasi yang berlebihan pada masa itu.
Gerakan ini mengundang beberapa tokoh lainnya
diantaranya adalah sayyid qutb dan yusuf qaradhawi. Gerakan-gerakan semacam ini
mendapat apresiasi dan perhatian dari pemerintah setempat, gerakan semacam ini
dinilai dapat memperbaiki moral umat yang waktu itu sedang kacau dan politik
dianggap salah satu jalannya Karena pada waktu itu pemerintah cenderung
kebijakan yang dibuat lebih menguntungkan dirinya sendiri dan berpihak pada
barat, terusan suez dikuasai oleh asing yang notabene penghubung atara timur
dan barat, dominasi internasional yang ingin mendirikan Negara yahudi dan
semakin tertidasnya rakyat palestina, sementara dipihak lain Universitas
Al-Azhar sebagi unirsitas tertua Islam yang di gadang-gandang sebagai jalan
panutan pemikiran pembahuran yang sesuai dengan semangat islam menjadi “melempen
dan mandul”.
Hal semacam itu tidak dibiarkan oleh
organisasi IM sehingga berupaya untuk menginbgatkan kaum muslimin dna
pemerintah melalui media seperti surat kabar, khutbah-khutbah majalah, pamphlet
dan liannnya) agar pemerintah dapat mengambil kebijakan yang digariskan sesuai
ajaran Islam. Hal ini menyebabkan benturan dengan pemerintah mesir sendiri.
Pemikirannya dan gerakan yang ia lakukan
adalah berasal dari semangat Islam tidak membawa hal-hal lain selain Islam baik
itu pemikran baru, agama baru dan lian sebagainya. Ia adalah contoh tokoh
politi Islma yang bersifat modern yaitu semangat, keterbukaan dan keluesan
sehingga ia menjadi istimewa disbanding tokoh-tokoh polutik islam modern
lainnya. Salah satu pemikiran politiknya ia tuangkan kedalam suatu risalah yang
bernama nizhamul Hukam Al-bana. Dalam risalah ini ia membagi pilar penyangga
pemerintah yaitu (1) tanggung jawab pemerintah (2) kesatuan Umat (3) sikap
menghargai aspirasi masyarakat. Selain itu dalam risalah ini pula ia menyatakan”Islam
yang hanif ini mengharuskan pemerintahannya menjadi salah satu penegak dari
beberapa penegak sistem sosial yang hadir untuk umat manusia. Islam tidak
tolelir terhadap kekacauan dan tidak membiarkan umat Islam hidup tanpa
pemimpin. Rasullah SAW bersabda” jika engkau berada disuatu negri yang tidak
ada kepemimpinan didalamnnya maka tinggalkan negri itu.” dan dalam hadist lain
beliau bersabda “dan jika engkau bertiga maka agkatlah seorang pemimpin.”
Mengakhiri tulisan ini dalam satu risalah ia juga mengutip perkataan usman bin
Affan r.a” sesungguhnya Allah mencegah dengan kekuasaan sesuatu yang
tidak bisa dicegah dengan Al-quran”. Wallahua’alm bishoab (@krompuls)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar